MENERIMA ILMU DAN KEBENARAN

DARI BERBAGAI SUMBER


 

URAIAN MATERI

Kita sering mendengar pepatah yang mengatakan: “Dengan agama hidup menjadi terarah, dengan ilmu hidup menjadi mudah, dan dengan seni hidup menjadi indah”. Begitulah peran ilmu dalam kehidupan yang dianggap sebanding dengan peran agama, meskipun memenuhi aspek kebutuhan yang berbeda dari kehidupan manusia. Ilmu itu tak ubahnya cahaya dalam pekatnya malam, memberikan sinar terang bagi mereka yang mengamalkannya.

            Kisah pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah untuk tunduk kepada Adam as menunjukkan keutamaan ilmu tersebut.  Adam as. yang diyakini oleh kaum Muslimin pada umumnya sebagai manusia pertama yang Allah ciptakan sebagai khalifah (pengganti atau wakil Allah) di muka bumi, diberi kelebihan oleh Allah swt dengan sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada malaikan, jin, maupun iblis sehingga Allah memerintahkan makhluk-makhluknya di surga untuk tunduk kepada Adam. Kelebihan yang dimiliki oleh Adam adalah ilmu yang diajarkan langsung oleh Allah kepadanya. Bukan hanya Adam yang yang mendapatkan kehormatan karena ilmunya itu, akan tetapi semua orang yang berilmu dimulyakan oleh Allah di sisi-Nya, bahkan mendapatkan apresiasi yang lebih di sisi hambanya yang lain di dunia. Sebagaimana janji Allah dalam salah satu firmannya bahwa Ia akan meninggikan derajat orang yang beriman dan mereka yang punya ilmu pengetahuan. 

 

 

A. Perintah Mencari Ilmu dalam Hadis 

Hadis pertama tentang kewajiban mencari ilmu yaitu; Hadis  Riwayat Ibnu Majah

حدثنا هشام بن عمّار حدثنا حَفْصُ بن سُليمان حدثنا كثِرُ بن شِنْظيرٍ عَن محمّد بن سِيرين عن أنسٍ بن مالك قل : قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم طلب العلم فريضة على كلّ مسلمٍ (رواه إبن ماجه)

Artinya: Hisyam bin Ammar bercerita kepada kami, Hafash bin Sulaiman bercerita kepada kami, Katsir bin Syindzir bercerita kepada kami, dari Muhammad bin Sirin, dari Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘mencari ilmu itu wajib atas setiap orang Muslim” (diriwayatkan oleh Ibnu Majah) 

Hadis yang diriwayatkan pertama kali oleh Anas bin Malik salah seorang sahabat terdekat Rasulullah ini dapat dijumpai di banyak kitab Hadis, antara lain di Sunan Ibn Majah salah satu diantara enam kitab Hadis (al-Kutub al-Sittah) yang paling mu’tabar (paling diakui dan dijadikan referensi). Selain Anas bin Malik, sahabat Rasulullah yang juga meriwayatkan hadis ini adalah Abu Said al-Khudri sebagaimana disebutkan dalam kitab Musnad al-Syihab karya Muhammad bin Salamah bin Ja’far. Karena banyaknya kitab yang mencantumkan hadis ini, maka hadis inipun sangat sering dikutip dalam karya-karya ilmiah, buku-buku maupun tulisan popular serta seminar dan ceramah- ceramah.  Namun demikian Ibn Majah sendiri menganggap hadis ini termasuk hadis dla’if (lemah, tidak sahih). Kelemahan hadis ini terletak pada seorang rawinya yang ada pada rangkaian sanad yaitu Hafash bin Sulaiman yang dinilai tidak tsiqah oleh Yahya bin Ma’in dan dikatakan matruk oleh Ahmad bin Hanbal dan Bukhary. Jadi penilaian bahwa hadis ini lemah adalah didasarkan pada kelemahan diri seorang perawinya.

Untuk mengingatkan lagi pengetahuan anda tentang syarat-syarat kesahihan hadis dan faktor-faktor penyebab kedlaifan (kelemahan) hadis, perhatikan penjelasan mengenai hadis shahih berikut. Kata shahih dalam bahasa diartikan  orang sehat  antonim dari kata al-saqîm=orang yang sakit, seolah-olah dimaksudkan Hadits shahih adalah Hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat. Adapun menurut istilah Hadits shahih adalah Hadits yang muttashil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil dan dhâbith (kuat daya ingatan)   sempurna dari sesamanya,  selamat dari kejanggalan (syadz),  dan  cacat (`illat) Dari definisi di atas dapat disimpulkan, Hadits shahih mempunyai  5 kriteria, yaitu :

a.         Persambungan sanad (bertemu langsung antar perawi sampai kepada Rasul).

b.        Para periwayat bersifat adil (konsisten dalam beragama), yaitu orang  yang konsisten (istiqamah) dalam beragama, baik akhlaknya, tidak fasik dan tidak melakukan cacat muruah.

c.         Para periwayat bersifat dhâbith (memiliki daya ingat hapalan yang  sempurna)  .

d.        Tidak ada  kejanggalan (syâdz). Maksud Syâdz  di sini adalah periwayatan orang tsiqah (terpercaya yakni adil dan dhâbith) bertentangan  dengan periwayatan orang yang lebih tsiqah.

e.         Tidak terjadi `illat  (cacat tersembunyi), `illah adalah  suatu sebab  tersembunyi yang membuat cacat  keabsahan  suatu Hadis padahal lahirnya  selamat dari cacat tersebut.

Apabila sebuah hadis tidak memenuhi salah satu saja dari lima persyaratan hadis shahih tersebut maka hadis tersebut dinilai dlaif (lemah). Seperti hadis diatas yaitu bahwa Hafash bin Sulaiman sebagai salah satu perawi yang ada pada rangkaian sanad dinilai tidak tsiqah (tidak terpercaya, mungkin karena hafalannya yang lemah atau karena akhlaknya yang kurang baik dan dinilai pula matruk (ditinggalkan). Akan tetapi secara logika, boleh jadi seorang perawi hadis dinilai kurang kuat hafalannya, tetapi tentu tidak bisa disimpulkan semua ucapannya salah. Terbukti bahwa hadis tersebut diriwayatkan pula melalui beberapa jalur sanad yang shahih yang tidak ada nama Hafash bin Sulaiman di dalamnya.

Meskipun hadis di atas dla’if dari sisi perawi, akan tetapi kandungan matan-nya sejalan dengan ajaran al-Qur’an yang memerintahkan kaum Muslimin menggali pengetahuan, antara lain surat al-Taubah ayat 122, dan surat al-‘Alaq ayat 1-5. Artinya, hadis ini mengandung ajaran untuk mengamalkan perbuatan-perbuatan yang baik yang disebut fadla’ilul a’mal. Hadis yang mengandung ajaran fadla’ilul a’mal ini, meskipun kualitasnya dla’if, menurut para ulama hadis boleh dijadikan dasar perbuatan. Pendapat serupa ini antara lain dikemukakan oleh Ahmad bin Hanbal. 

Perintah mencari ilmu ini, betul-betul diperhatikan oleh kaum Muslimin sehingga sejak awal perkembangan peradaban Islam aktifitas belajar dan mengajar sangat intensif dilakukan. Beberapa sahabat dikirim oleh Rasulullah ke berbagai tepat seperti Yaman, Syam, dan Mesir untuk memberikan pengajaran. Pendidikan Islam memberi kebebasan kepada murid-murid untuk belajar kepada guru-guru yang mereka kehendaki. Selain murid-murid, guru-guru juga melakukan perjalanan dan berpindah dari satu kota ke kota lain untuk mengajar sekaligus belajar. Dengan demikian aktifitas rihlah ilmiyah mendorong lahirnya learning society (masyarakat belajar). Kesediaan melakukan perjalanan jauh sekalipun untuk mencari ilmu tidak terlepas dari dorongan Rasulullah saw dalam sebuah hadis: 

عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى عليه وسلم أطلبوا العلم ولو بالصين (رواه مسندالبزار) 

Artinya : Dari Anas bin Malik, dia berkata Rasulullah saw bersabda: “Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina”

Hadis ini mengisyaratkan untuk mencari ilmu sampai ke negeri China, walaupun untuk memperolehnya seseorang harus melakukan perjalanan jauh. Ini mengisyaratkan pula perintah untuk bersikap terbuka menerima kebenaran dari manapun datangnya kebenaran tersebut. Orang-orang bijak memberikan nasehat yang berbunyi  خذ الحكمة من أي وعاء خرجت “Ambillah hikmah (pengetahuan/pelajaran) dari manapun datangnya”. Begitu juga nasehat lain yang berbunyi:  الحكمة ضالة المؤمن أنى وجدها فليلتقطها “Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin, maka di manapun dia menemukannya hendaklah dia mengambilnya”.

Selain berimplikasi pada aktifitas mencari ilmu secara individual, hadis Rasulullah tentang kewajiban belajar ini mendorong lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Islam baik yang formal maupun informal. Lembaga pendidikan formal adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Negara untuk mempersiapkan pemuda-pemuda Islam agar menguasai pengetahuan agama dan berperan dalam agama, atau menjadi tenaga birokrasi, atau pegawai pemerintahan. Sedangkan lembaga pendidikan informal tidak dikelola oleh Negara.  Adapun bentuk lembaga-lembaga pendidikan Islam di masa klasik adalah:

1.        Maktab/Kuttab adalah lembaga pedidikan dasar.

2.        Halaqah, adalah pendidikan tingkat lanjut setingkat dengan college.

3.        Majlis, yakni kegiatan transmisi keilmuan dari berbagi disiplin ilmu.

4.        Masjid Jami atau univesitas, seperti Masjid Jami al-Azhar di Cairo, Masjid al- Manshur di Baghdad, dan Masjid Umayyah di Damaskus.

5.        Khan yaitu asrama pelajar atau tempat belajar secara privat.

6.        Ribath yaitu tempat kegiatan kaum sufi.

7.        Rumah-rumah ulama.

8.        Perpustakaan.

9.        Observatorium seperti Baitul Hikmah yang dibangun oleh al-Makmun di Baghdad dan Darul Hikmah yang dibangun oleh al-Hakim di Mesir, Observatorium Dinasti Hamadan yang dikelola oleh Ibn Sina dan Observatorium Umar Khayyam. 

 

B. Fungsi Ilmu di Masyarakat

Ilmu mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu manusia menciptakan kebudayaan, lembaga-lembaga sosial dan membangun peradaban. Dengan ilmu, manusia mengatur tata kehidupan dan pola interaksi sesama manusia. Hadis berikut menjelaskan sebagian fungsi ilmu:

عن أنسٍ بن مالك أنه قال قال رسول الله صلى عليه وسلم إنّ مِن أَشراطِ الساعةِ أن يُرفعَ العلمُ ويَظهرَ الجهلُ ويَفْشُوَ الزنا وتُشرَبَ الخمرَ (رواه الترمذي)

Artinya: Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya diantara tanda-tanda hari kiamat adalah hilangnya ilmu, merebaknya kebodohan, menyebarnya perzinaan, dan semakin banyak orang minum khamar …. (diriwayatkan oleh Turmudzi) 

Hadis yang dinilai shahih oleh Imam al-Turmudzi ini menjelaskan bahwa kiamat, kehancuran alam, tidak akan terjadi selama ilmu masih menjadi panduan kehidupan manusia. Sebaliknya, hilangnya ilmu merupakan salah satu syarat akan datangnya hari kehancuran tersebut. Sebab hilangnya ilmu itu akan merembet pada kebodohan manusia, dan kebodohan manusia itu akan menyebabkan mereka melakukan pelanggaran dan pengrusakan. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhary dikatakan bahwa hilangnya ilmu akan menyebabkan terjadinya banyak pembunuhan. Semua tindakan negative itu akan mengantarkan pada bencana yang lebih besar yaitu kehancuran alam semesta, atau yang disebut kiamat.  Hadis lain yang menggambarkan fungsi ilmu dalam kehidupan adalah H.R. al Bukhary yang artinya : Hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, dia berkata saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan cara merampasnya dari dada manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Sehingga bila tidak ada lagi orang alim, manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Jika mereka ditanya mereka akan memberi fatwa tanpa dasar ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan”.

Menurut hadis ini, ilmu dapat menyelamatkan manusia dari kesesatan, dan menghindarkan komunitas manusia dari kepemimpinan orang-orang yang bodoh yang akan menjerumuskan mereka ke jalan yang salah. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa fungsi ilmu secara umum adalah menghindarkan manusia dari kebodohan, pelanggaran dan kesalahan-kesalahan yang lain. Fungsi ilmu tentu tidak hanya secara masal, akan tetapi fungsi ilmu dapat dilihat secara individual, yaitu mengalirkan pahala kepada orang yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Hal itu disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Turmudzi, Nasai dll, yang artinya ;

“Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda “Jika anak Adam (manusia) mati, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali dari tiga hal yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya.”

 

C. Keistimewaan Orang Berilmu

Ilmu selain berperan penting dan memberikan manfaat yang positif dalam kehidupan manusia, ilmu juga menempatkan para ulama pada kedudukan istimewa diantara manusia dan makhluk-makhluk Allah yang lain. Sebagaimana telah disebutkan dalam H.R. Abu Dawud yang artinya :

“Dari Abu Darda ra, dia berkata: “sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah menyertainya berjalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap pencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang berilmu dimohonkan ampunan oleh makhluk-makhluk penghuni langit dan bumi bahkan oleh ikan di dalam air. Sungguh keutamaan seorang alim (ahli ilmu) dibanding dengan seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti cahaya bulan purnama dibanding cahaya bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu, siapa mendapatkannya akan memperoleh keberuntungan yang besar.” 

Dari keterangan hadis diatas menjelaskan bahwa, setidaknya ada lima keistimewaan orang berilmu yaitu:

1.        Diiringi perjalannya oleh Allah menuju surga, orang yang sungguh-sungguh mencari ilmu dan bersabar serta tabah menghadapi segala kesulitan yang ada, akan dibantu oleh Allah sehingga dia berhasil menikmati buah ilmu itu di dunia maupun akhirat.

2.        Diridhoi oleh para malaikat, yaitu malaikat selalu memberikan ilham, inspirasi dan bimbingan ke arah yang positif kepada manusia. Dengan ridho dari malaikat, pencari ilmu yang sungguh-sungguh akan cenderung kepada hal-hal yang positif.

3.        Didoakan oleh makhluk-makhluk yang ada di udara maupun di darat serta yang ada di dalam air.

4.        Dinilai lebih utama dibanding ahli ibadah. Argument yang paling rasional untuk pernyataan ini adalah bahwa manfaat dari ilmu yang dimiliki seorang alim dirasakan bukan hanya oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang banyak. Sedangkan manfaat ibadah seseorang lebih dirasakan oleh dirinya sendiri, meskipun dapat pula memberi inspirasi pada orang lain.

5.        Dinyatakan sebagai pewaris para nabi. Keberlangsungan ajaran para nabi dijaga oleh para ulama yang secara turun temurun dari generasi ke generasi mengajarkan konsep-konsep akidah, tata cara beribadah, prinsip-prinsip akhlak, dan aturan-aturan bermuamalah yang telah disampaikan para nabi. Hal itu merupakan kehormatan yang besar. 

Karena sangat pentingnya ilmu itulah firman Allah yang pertama kali diturunkan kepada utusan-Nya adalah perintah membaca. Membaca adalah salah satu metode untuk memperoleh dan mempelajari ilmu. Hal ini termasuk membaca dengan mengamati fenomena sosial dan gejala-gejala alam. Sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an, misalnya surat al-Baqarah/2: 164 yaitu ;

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلۡفُلۡكِ ٱلَّتِي تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٖ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖ وَتَصۡرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلۡمُسَخَّرِ بَيۡنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ (ألبقرة : 164) 

Artinya : Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pada pergantian malam dan siang, pada kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, dan pada apa yang diturunkan oleh Allah dari langit berupa air (hujan) lalu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di bumi itu bermacam- macam binatang, dan pada perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, semua itu sungguh merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir. (al-Baqarah/2: 164)

Selain itu pada surat Yunus ayat 101 Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukan pengamatan (observasi) terhadap gejala-gejala alam tersebut.  Ayat-ayat tersebut memberikan pemahaman kepada kita untuk senantiasa belajar, dan menganalisa segala persoalan yang ada di sekitar kita, ini dapat dilakukan dengan cara menganalisa fenomena-fenomena (gejala-gejala) yang ada di lingkungan kita.

 

D. Ilmu Pengetahuan Sebagai Basis Kemajuan

Kebenaran al-Quran dan hadits adalah kebenaran pasti dan niscaya yang tidak bisa ditawar. Kebenaran itulah yang kemudian menjadi spirit ummat Islam untuk menggali ilmu pengetahuan. Penggalian ilmu pengetahuan menjadi tradisi ummat Islam, baik ilmu-ilmu keagamaan maupun ilmu profan, bahkan filsafat. Kebangkitan peradaban Islam akhirnya tidak bisa terbendung. Ia lahir dan mencuak menjadi peradaban baru yang meneguasai tiga benua; Asia, Afrika, dan sebagian benua Eropa. Ummat Islam telah menikmati kejayaannya pada saat Eropa masih berkutat dengan keterbelakangan dan kebodohannya.

Karya-karya ummat Islam diberbagai bidang ilmu pengetahuan tumbuh subur. Pada tahun 800 M pabrik kertas pertama berhasil didirikan di Baghdad. Perpustakaan pun bermunculan di hampir seluruh negeri Arab (Islam) yang dulu dikenal sebagai bangsa nomad yang buta huruf dan cuma bisa mengangon kambing. Direktur observatorium Maragha, Nasiruddin At Tousi memiliki kumpulan buku sejumlah 400.000 buah. Di Kordoba (Spanyol) pada abad 10, Khalifah Al Hakim memiliki suatu perpustakaan yang berisi 400.000 buku, sedangkan 4 abad sesudahnya raja Perancis Charles yang bijaksana hanya memiliki koleksi 900 buku. Bahkan Khalifah Al Aziz di Mesir memiliki perpustakaan dengan 1.600.000 buku, di antaranya 16.000 buah tentang matematika dan 18.000 tentang filsafat. 

Pada masa awal Islam dibangun badan-badan pendidikan dan penelitian yang terpadu. Observatorium pertama didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Abdul Malik dari Bani Umayah. Kemudian didirikan observatorium-observatorium berikutnya; Baitul Hikmah yang dibangun oleh al-Makmun di Baghdad dan Darul Hikmah yang dibangun oleh al-Hakim di Mesir. Selain itu ada observatorium Dinasti Hamadan yang dikelola oleh Ibn Sina dan observatorium Umar Khayyam.

Para ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi memperkenalkan “Angka Arab” (Arabic Numeral) untuk menggantikan sistem bilangan Romawi yang kaku. Bayangkan bagaimana ilmu Matematika atau Akunting bisa berkembang tanpa adanya sistem “Angka Arab” yang diperkenalkan oleh ummat Islam ke Eropa. Kita mungkin bisa menuliskan angka 3 dengan mudah memakai angka Romawi, yaitu “III,” tapi bagaimana dengan angka 879.094.234.453.340 ke dalam angka Romawi?.

Selain itu Al Khawarizmi juga memperkenalkan ilmu Algorithma dan juga Aljabar (Algebra). Omar Khayam menciptakan teori tentang angka-angka “irrational” serta menulis suatu buku sistematik tentang Mu’adalah (equation). Di dalam ilmu kedokteran, ilmuwan Muslim juga mencapai kemajuan. Dalam bidang ini dunia mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya al-Qanun fi al-Thibbi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de Cremone (meninggal tahun 1187), yang sampai zaman Renaissance tetap jadi textbook di fakultas kedokteran Eropa. Ar Razi (Razes) adalah seorang jenius multi disiplin. Dia bukan hanya dokter, tapi juga ahli fisika, filosof, ahli theologi, dan ahli syair. Eropa juga mengenal Ibnu Rusyid (Averroes) yang ahli dalam filsafat. Maka tidaklah heran jika produser film Robin Hood the Prince of Thieves menyisipkan adegan keterkejutan Robin Hood dengan kecanggihan teknologi bangsa Moor.

Sayangnya kejayaan ummat Islam di abad pertengahan itu hanyalah masa lalu. Ummat Islam hanya bisa mengenang dan membaca sejarahnya. Hanya bisa berbangga dengan kejayaan pendahulunya. Tetapi belum mampu berbicara banyak dalam pentas dunia. Bahkan ketika ummat Islam mengabaikan perintah Allah yang satu ini (ilmu) ummat Islam terperosok dalam jurang keterbelakangan, dan tidak mampu bangkit dari ketertinggalannya.

Ummat Islam semakin jauh dari ajaran agamanya, semakin jauh dari al-Quran dan hadits Nabi, semakin jauh dari pengamalan para salaf al-saleh, mereka tidak memahami bahwa menuntut ilmu dan menjadi orang berilmu adalah perintah Allah dan perintah Nabi, sebagaimana halnya perintah shalat, sedekah dan yang lainnya.

Maka tidak ada alasan lagi bagi kita semuanya kecuali menggiatkan diri dengan belajar dan menuntut ilmu. Menjadikan masyarakat Islam sebagai masyarakat pencinta ilmu dan pembelajar adalah agenda izzah dan proyek kesalehan besar yang harus ditunaikan. Karena kebangkitan ummat akan terwujud dengan kebangkitan ilmu pengetahuannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISKUSI

 

 

Assalamu’alaikum.wr.wb.

 

Berdasarkan pengamatan saya dari video/slide diatas dapat saya simpulkan bahwa belajar perlu dengan keterbukaan dan dari mana saja yang dapat membawa kebaikan, khususnya dalam bidang perekonamian,  sebagaimana hadis riwayat Musnad al Buzar

عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى عليه وسلم أطلبوا العلم ولو بالصين (رواه مسندالبزار) 

Artinya : Dari Anas bin Malik, dia berkata Rasulullah saw bersabda: “Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina”

Dari video tersebut dapat kita ambil pelajaran/ilmu dalam tata kelola perekonomia dan beberapa faktor kemajuan negara China diantaranya :

1.     China membangun insfrastruktur dan zona yang sempurna untuk menjalankan bisnis, yaitu dengan infestasi yang fleksibel, sebagai zona perdagangan bebas, zona teknologi yang tinggi, pusat pengolahan eksport dan negara pemberi izin infestasi tercepat.

2.     Negara China pintar berhemat termasuk masyarakatnya. Pembangunan 80 % berasal dari penghimpunan gaji dari empat Bank negara besar.

3.     Tetap fokus dan komitmen pada pertumbuhan ekonomi makro, dengan menjadikan negara sebagai pusat bisnis yaitu dengan kebijakan pasar terbukanya.

4.     Sistem pemerintah yang otoriter, dengan tetap fokus pada pertumbuhan ekonomi dan tidak ada perubahan idiologi dan kepemimpinan politiknya.

 

Dari beberapa faktor kemajuan negara China di atas maka dapat di tafsirkan sebagai berikut;

1.     Demi kemaslahatan maka yang perlu di utamakan adalah kepentingan umum terlebih dahulu.

2.     Pandai berhemat dalam segala hal, sebab sebagai mana dalam hadis disebutkan yang artinya; “sifat hemat adalah separuh dari kehidupan”

3.     Tetap istikomah dalam perkembangan ekonomi makro dengan keterbukaan pemerintah, yaitu dengan kebijakan pasar bebas.

4.     Idiologi negara tidak berubah dan kepemimpinan politiknya. Artinya Tatanan perundang-undangan bersifat permanen, negara hanya mengurusi tentang kemajuan sains, pembangunan dan teknologi.

 

Wassalamu’alaikum.wr.wb.

                 

 

Assalamu’alaikum.wr.wb.

 

Berdasarka slide diatas yang dapat saya ambil kesimpulan :

1.  Tentang fungsi ilmu; bawa pentingnya peran ilmu dalam berbagai dimensi kehidupan manusia adalah untuk menunjang keberhasilan kehidupan didunia dan akhirat, yaitu dengan ilmu maka dapat menghindarkan manusia dari kebodohan, pelanggaran, kesalahan dan menghindarkan manusia dari kepemimpinan orang-orang bodoh. Untuk kehidupan akhirat dengan menggunakan ilmu maka dalam menjalankan ibadahnya maka manusia akan terarah sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam beribadah, baik ibadah mahdlah maupun ibadah ghairu mahdlah dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi ilmu tentu tidak hanya secara masal, akan tetapi fungsi ilmu dapat dilihat secara individual, yaitu mengalirkan pahala kepada orang yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.

عَن اَبِي هُرَ يْرَ ةَ رَضِي اللّه عنه ان رَسُو لُ اللَّه صلى الله عليه وسلم قا ل إِذَا مَاتَ اُ بْنُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم وتر مذي والنساءي وغير هم)

Artinya: Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda “Jika anak Adam (manusia) mati, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali dari tiga hal yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya. (diriwayatkan oleh Muslim, Turmudzi, Nasai dll)

2.  Tentang keutamaan ilmu; Karena pentingnya ilmu itu, firman Allah yang pertama kali diturunkan kepada utusan-Nya adalah perintah membaca. Membaca adalah salah satu metode untuk memperoleh dan mempelajari ilmu Ketika masih di dunia maka dengan ilmu manusia akan mendapatkan jalan kehidupan yang mudah atas ridla Allah swt dan malaikat-malaikat-Nya, dan dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, manusia akan senantiasa mendapatkan pahala yang mengalir, mendapat ridla Allah dan malaikat, bahkan semua mahluk Allah yanga ada di langit dan bumi termasuk ikan yang ada dilautan akan senantiasa mendo’akannya.

Demikian juga, ilmu sangat penting dalam kehidupan sehari – hari, karena ilmu merupakan pedoman hidup umat manusia. Kita tidak dapat melakukan sesuatu tanpa adanya ilmu, dengan adanya ilmu kita dapat mengetahui sesuatu yang tadinya belum kita ketahui. Orang yang berilmu, Insyaallah akan selamat di dunia dan di akhirat. Sedangkan, orang yang tidak berilmu adalah orang yang tidak memilki semangat dan tujuan hidup sehingga masa depannya akan menjadi suram. Perlu menjadi acuan terdapat beberapa keutamaan-keutamaan ilmu lainnya dalam pandangan islam yaitu:

1.     Mengenalkan Dirinya Pada Dunia Luar

2.     Titik Awal dari Setiap Kehidupan Manusia

3.     Memperoleh Kemuliaan dan Kesejahteraan

4.     Memperoleh Kebijaksanaan

5.     Mengetahui Bahwa Allah Maha Besar

6.     Mengajarkan Untuk Bersyukur

7.     Menularkan Ilmu Bermanfaat

8.     Berguna Bagi Sesama

9.     Mengamati Ciptaan Allah

Wassalamu’alaikum.wr.wb.